Minggu, 24 Januari 2010
Rabu, 20 Januari 2010
Perkembangan Lada Putih Muntok
PANGKALPINANG -- Berbagai upaya dilakukan guna mengembalikan kejayaan lada putih (Muntok White Pepper) Bangka Belitung. Langkah ini dilakukan guna meningkatkan pendapatan petani serta perekonomian regional dan nasional. Sebab belakangan ini produksi lada di Bangka Belitung terjadi penurunan.
Tahun 2002, produksi Muntok White Pepper berjumlah 33.000 ton. Jumlah tersebut menurun di tahun 2003 menjadi 27.000 ton, sedangkan di tahun 2004 kembali menurun menjadi 20.000 ton. Penurunan jumlah produksi terus terjadi, dan di tahun 2005 produksi tinggal 16.000 ton. Pada tahun 2006 hingga 2007, jumlah produksi sama yaitu berada di angka 14.000 ton. Malangnya di tahun 2008, angka ini kembali menurun dan berada di angka 13.000 ton.
Kapus Litbang Perkebunan Deptan, Syakir menjelaskan, Deptan siap membantu dan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk kembali meningkatkan jumlah produksi lada putih di Bangka Belitung. Daerah kepulauan ini mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sektor perkebunan lada putih.
Di Indonesia, Provinsi Bangka Belitung merupakan penghasil lada terbesar setelah Provinsi Lampung. Selain itu, lada produksi Bangka Belitung diperhitungkan di tingkat dunia, jelasnya saat acara Workshop Revitalisasi/Intensifikasi Lada Putih (Muntok White Pepper) di Hotel Serrata Pasir Padi Pangkalpinang, Kamis 25 Juni 2009.
Lebih jauh ia mengatakan, komoditi lada tetap menjadi prioritas, namun masih menjadi kendala selama ini yaitu penyakit yang kerap kali menyerang tanaman lada. Penyakit lada tersebut menjadi penghalang bagi petani untuk meningkatkan produksi lada. Dengan digelarnya kegiatan ini diharapkan dapat memberikan solusi terhadap kendala yang dihadapi petani tersebut.
Selain itu menurutnya, terjadi penurunan produksi lada Bangka Belitung juga diakibatkan kegiatan tambang inkonvensional timah. Sebab banyak tanah setelah dilakukan penambangan menjadi tandus. Untuk itu perlu dipikirkan ke depan agar lahan bekas eks tambang tersebut masih dapat dimanfaatkan untuk pengembangan perkebunan lada.
"Harus dipikirkan bagaimana cara memproduktifkan kembali lahan eks tambang tersebut. Diharapkan hal itu dapat direalisasikan dengan adanya MoU antara Deptan dengan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung. Namun tentunya harus ada realisasi sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat," ungkapnya.
Sementara Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bayo Dandari saat membacakan sambutan gubernur ketika membuka workshop mangatakan, revitalisasi ini merupakan upaya untuk membangkitkan kembali Muntok White Pepper. Bangka Belitung mempunyai potensi, namun sementara ini belum tergaraf dengan maksimal.
Asisten menambahkan, produksi lada di Bangka Belitung mampu bersaing dengan lada dari Negara Vietnam. Namun saat ini kondisinya produksi lada menurun dan luas lahan perkebunan lada juga terjadi penurunan. Tahun 2000 luas lahan perkebunan lada mencapai 80.000 hektare, namun angka tersebut menurun di tahun 2007 tinggal 35.000 an hektare.
Sebagaimana diketahui, export lada berasal dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjumlah 29.448 ton di tahun 2002. Lalu dari tahun ke tahun terjadi penurunan angka export tersebut. Tahun 2003, angka export lada 21.199 ton, sementara tahun 2004 jumlah export lada tinggal 9.805 ton. Kenaikan jumlah export terjadi tahun 2005 yang berhasil menembus angka 11.568 ton, dan tahun 2006 sempat turun ke angka 10.677 ton dan merangkak naik kembali tahun 2007 menjadi 11.000. Satu tahun belakangan, tepatnya 2008 jumlah export turun ke angka 8.500.
Dikatakan Asisten, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya produksi lada putih di antaranya, mutu tanaman dan harga. Harga lada murah, sementara biaya produksi mahal. Keberadaan perkebunan lada saat ini juga bersaing dengan perkebunan sawit dan sektor pertambangan.
"Sementara ini program pengembangan peningkatan produksi lada masih bersifat parsial, jadi belum memberikan hasil yang maksimal. Revitalisasi sangat mendesak, dan dalam hal ini perlu keterlibatan berbagai pihak dan anggaran yang memadai, " jelasnya
Tahun 2002, produksi Muntok White Pepper berjumlah 33.000 ton. Jumlah tersebut menurun di tahun 2003 menjadi 27.000 ton, sedangkan di tahun 2004 kembali menurun menjadi 20.000 ton. Penurunan jumlah produksi terus terjadi, dan di tahun 2005 produksi tinggal 16.000 ton. Pada tahun 2006 hingga 2007, jumlah produksi sama yaitu berada di angka 14.000 ton. Malangnya di tahun 2008, angka ini kembali menurun dan berada di angka 13.000 ton.
Kapus Litbang Perkebunan Deptan, Syakir menjelaskan, Deptan siap membantu dan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk kembali meningkatkan jumlah produksi lada putih di Bangka Belitung. Daerah kepulauan ini mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sektor perkebunan lada putih.
Di Indonesia, Provinsi Bangka Belitung merupakan penghasil lada terbesar setelah Provinsi Lampung. Selain itu, lada produksi Bangka Belitung diperhitungkan di tingkat dunia, jelasnya saat acara Workshop Revitalisasi/Intensifikasi Lada Putih (Muntok White Pepper) di Hotel Serrata Pasir Padi Pangkalpinang, Kamis 25 Juni 2009.
Lebih jauh ia mengatakan, komoditi lada tetap menjadi prioritas, namun masih menjadi kendala selama ini yaitu penyakit yang kerap kali menyerang tanaman lada. Penyakit lada tersebut menjadi penghalang bagi petani untuk meningkatkan produksi lada. Dengan digelarnya kegiatan ini diharapkan dapat memberikan solusi terhadap kendala yang dihadapi petani tersebut.
Selain itu menurutnya, terjadi penurunan produksi lada Bangka Belitung juga diakibatkan kegiatan tambang inkonvensional timah. Sebab banyak tanah setelah dilakukan penambangan menjadi tandus. Untuk itu perlu dipikirkan ke depan agar lahan bekas eks tambang tersebut masih dapat dimanfaatkan untuk pengembangan perkebunan lada.
"Harus dipikirkan bagaimana cara memproduktifkan kembali lahan eks tambang tersebut. Diharapkan hal itu dapat direalisasikan dengan adanya MoU antara Deptan dengan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung. Namun tentunya harus ada realisasi sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat," ungkapnya.
Sementara Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bayo Dandari saat membacakan sambutan gubernur ketika membuka workshop mangatakan, revitalisasi ini merupakan upaya untuk membangkitkan kembali Muntok White Pepper. Bangka Belitung mempunyai potensi, namun sementara ini belum tergaraf dengan maksimal.
Asisten menambahkan, produksi lada di Bangka Belitung mampu bersaing dengan lada dari Negara Vietnam. Namun saat ini kondisinya produksi lada menurun dan luas lahan perkebunan lada juga terjadi penurunan. Tahun 2000 luas lahan perkebunan lada mencapai 80.000 hektare, namun angka tersebut menurun di tahun 2007 tinggal 35.000 an hektare.
Sebagaimana diketahui, export lada berasal dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjumlah 29.448 ton di tahun 2002. Lalu dari tahun ke tahun terjadi penurunan angka export tersebut. Tahun 2003, angka export lada 21.199 ton, sementara tahun 2004 jumlah export lada tinggal 9.805 ton. Kenaikan jumlah export terjadi tahun 2005 yang berhasil menembus angka 11.568 ton, dan tahun 2006 sempat turun ke angka 10.677 ton dan merangkak naik kembali tahun 2007 menjadi 11.000. Satu tahun belakangan, tepatnya 2008 jumlah export turun ke angka 8.500.
Dikatakan Asisten, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya produksi lada putih di antaranya, mutu tanaman dan harga. Harga lada murah, sementara biaya produksi mahal. Keberadaan perkebunan lada saat ini juga bersaing dengan perkebunan sawit dan sektor pertambangan.
"Sementara ini program pengembangan peningkatan produksi lada masih bersifat parsial, jadi belum memberikan hasil yang maksimal. Revitalisasi sangat mendesak, dan dalam hal ini perlu keterlibatan berbagai pihak dan anggaran yang memadai, " jelasnya
Sahabbudin....Pahlawan Salah Satu Pahlawan Babel

TAK banyak masyarakat Bangka Belitung (Babel) mengenal sosok Sahabudin. Padahal Sahabudin, pria kelahiran Dusun Tutut Desa Penyamun, Kecamatan Pemali menyerahkan nyawanya untuk mempertahankan tanah air Republik Indonesia.
Sahabudin meninggal di Laut Aru 15 Januari 1962. Sebuah torpedo dari kapal perang Belanda menghantam lambung KRI Macan Tutul. Sahabudin salah satu pejuang yang berada di dalam kapal saat mempertahankan NKRI. Pengorbanan Sahabudin diabadikan di Markas Komando TNI Angkatan Laut (AL) pusat.
Pria asal Dusun Tutut semasa hidupnya menjadi pernah parjurit di TNI AL. Dia salah satu ABK di KRI Macan Tutul. Tragedi gedi Laut Aru merenggut nyawa Sahabudin yang berpangkat klasi dua.
Tak cuma Sahabudin, rekan-rekannya yang lain awak KRI Macan Tutul pun gugur membela RI. Mereka gugur bersama seorang pahlawan nasional Komodor Yos Sudarso yang memimpin pertempuran Laut Aru.
Tohir adik kandung almarhum Sahabudin mengisahkan, semasa hidupnya, Sahabudin sebelum bergabung sebagai TNI AL menamatkan pendidikan di Sekolah Teknik (ST) Sungailiat. Sahabudin dikenal sebagai anak yang rajin, suka bergaul sesama rekan dan sahabat di kampungnya Dusun Tutut sekitar 10 kilometer dari Sungailiat.
Usai menamatkan pendidikan di ST, Sahabudin berminat melanjutkan cita-cita sebagai seorang tentara. Keinginan Sahabudin sempat membuat bingung pihak keluarganya.
Sebab pihak keluarga beranggapan keinginan Sahabudin tersebut sulit terwujud. Kondisi ekonomi keluarganya tidaklah memungkinkan dirinya untuk menjadi tentara. Untuk melamar menjadi anggota TNI AL mesti ke luar Pulau Bangka sehingga butuh biaya yang tak sedikit.
“Tapi tekad dan semangatnya tak bisa diredam maka apa yang menjadi keinginannya pun kami turut mendukung. Ternyata tak disangka ia diterima sebagai anggota TNI AL,” kenang Tohir saat itu didampingi adik dan kakak kandung Sahabudin antara lain Syaidah, Zubir dan salah seorang keponakannya, Saferi di kediaman Dusun Tutut.
Saat menerima kunjungan Danlanal Babel Letkol Laut (P) Gregorius Agung WD didampingi istri bersama para perwira TNI AL lainnya, Rabu (14/1) pagi tak banyak yang diungkapkan oleh Tohir.
Apalagi yang diketahui oleh kakak maupun adik kandungnya. Sahabudin pergi meninggalkan keluarga demi membela negara saat usianya masihlah tergolong muda.
“Mungkin sudah takdirnya, dia harus meninggalkan kami demi membela tanah air tercinta,” ucap Tohir dengan pandangan mata berkaca-kaca. Jasa atau perjuangan Sahabudin membela tanah air tidak begitu saja dilupakan. Pemerintah RI di era pemerintahan Soeharto pun sempat menorehkan sebuah penghormatan bagi Almarhum Sahabudin dengan menetapkan namanya dalam daftar deretan nama-nama pahlawan nasional. Beragam penghargaan lainnya termasuk namanya pun sempat diabadikan sebagai salah satu nama gedung di Mako AL.
Danlanal Babel Gregorius pun sempat pula mengusulkan kepada pemerintah daerah Provinsi Babel agar nama Sahabudin dapat diabadikan menjadi salah satu nama jalan atau dibangun monumen di Pulau Bangka.
“Sudah pernah kita usulkan. Dan kita harapkan nama beliau dapat diabadikan untuk nama jalan atau setidak-tidaknya dibangun tugu monumen sosok Sahabudin. Sebab walau bagaimana pun dia merupakan pahlawan nasional, putera daerah yang patut kita hormati.” kata Gregorius sembari mengingatkan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah atau jasa-jasa para pahlawannya. (ryan augusta p)
Pria asal Dusun Tutut semasa hidupnya menjadi pernah parjurit di TNI AL. Dia salah satu ABK di KRI Macan Tutul. Tragedi gedi Laut Aru merenggut nyawa Sahabudin yang berpangkat klasi dua.
Tak cuma Sahabudin, rekan-rekannya yang lain awak KRI Macan Tutul pun gugur membela RI. Mereka gugur bersama seorang pahlawan nasional Komodor Yos Sudarso yang memimpin pertempuran Laut Aru.
Tohir adik kandung almarhum Sahabudin mengisahkan, semasa hidupnya, Sahabudin sebelum bergabung sebagai TNI AL menamatkan pendidikan di Sekolah Teknik (ST) Sungailiat. Sahabudin dikenal sebagai anak yang rajin, suka bergaul sesama rekan dan sahabat di kampungnya Dusun Tutut sekitar 10 kilometer dari Sungailiat.
Usai menamatkan pendidikan di ST, Sahabudin berminat melanjutkan cita-cita sebagai seorang tentara. Keinginan Sahabudin sempat membuat bingung pihak keluarganya.
Sebab pihak keluarga beranggapan keinginan Sahabudin tersebut sulit terwujud. Kondisi ekonomi keluarganya tidaklah memungkinkan dirinya untuk menjadi tentara. Untuk melamar menjadi anggota TNI AL mesti ke luar Pulau Bangka sehingga butuh biaya yang tak sedikit.
“Tapi tekad dan semangatnya tak bisa diredam maka apa yang menjadi keinginannya pun kami turut mendukung. Ternyata tak disangka ia diterima sebagai anggota TNI AL,” kenang Tohir saat itu didampingi adik dan kakak kandung Sahabudin antara lain Syaidah, Zubir dan salah seorang keponakannya, Saferi di kediaman Dusun Tutut.
Saat menerima kunjungan Danlanal Babel Letkol Laut (P) Gregorius Agung WD didampingi istri bersama para perwira TNI AL lainnya, Rabu (14/1) pagi tak banyak yang diungkapkan oleh Tohir.
Apalagi yang diketahui oleh kakak maupun adik kandungnya. Sahabudin pergi meninggalkan keluarga demi membela negara saat usianya masihlah tergolong muda.
“Mungkin sudah takdirnya, dia harus meninggalkan kami demi membela tanah air tercinta,” ucap Tohir dengan pandangan mata berkaca-kaca. Jasa atau perjuangan Sahabudin membela tanah air tidak begitu saja dilupakan. Pemerintah RI di era pemerintahan Soeharto pun sempat menorehkan sebuah penghormatan bagi Almarhum Sahabudin dengan menetapkan namanya dalam daftar deretan nama-nama pahlawan nasional. Beragam penghargaan lainnya termasuk namanya pun sempat diabadikan sebagai salah satu nama gedung di Mako AL.
Danlanal Babel Gregorius pun sempat pula mengusulkan kepada pemerintah daerah Provinsi Babel agar nama Sahabudin dapat diabadikan menjadi salah satu nama jalan atau dibangun monumen di Pulau Bangka.
“Sudah pernah kita usulkan. Dan kita harapkan nama beliau dapat diabadikan untuk nama jalan atau setidak-tidaknya dibangun tugu monumen sosok Sahabudin. Sebab walau bagaimana pun dia merupakan pahlawan nasional, putera daerah yang patut kita hormati.” kata Gregorius sembari mengingatkan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah atau jasa-jasa para pahlawannya. (ryan augusta p)
TAK banyak masyarakat Bangka Belitung (Babel) mengenal sosok Sahabudin. Padahal Sahabudin, pria kelahiran Dusun Tutut Desa Penyamun, Kecamatan Pemali menyerahkan nyawanya untuk mempertahankan tanah air Republik Indonesia.
Sahabudin meninggal di Laut Aru 15 Januari 1962. Sebuah torpedo dari kapal perang Belanda menghantam lambung KRI Macan Tutul. Sahabudin salah satu pejuang yang berada di dalam kapal saat mempertahankan NKRI. Pengorbanan Sahabudin diabadikan di Markas Komando TNI Angkatan Laut (AL) pusat.
Pria asal Dusun Tutut semasa hidupnya menjadi pernah parjurit di TNI AL. Dia salah satu ABK di KRI Macan Tutul. Tragedi gedi Laut Aru merenggut nyawa Sahabudin yang berpangkat klasi dua.
Tak cuma Sahabudin, rekan-rekannya yang lain awak KRI Macan Tutul pun gugur membela RI. Mereka gugur bersama seorang pahlawan nasional Komodor Yos Sudarso yang memimpin pertempuran Laut Aru.
Tohir adik kandung almarhum Sahabudin mengisahkan, semasa hidupnya, Sahabudin sebelum bergabung sebagai TNI AL menamatkan pendidikan di Sekolah Teknik (ST) Sungailiat. Sahabudin dikenal sebagai anak yang rajin, suka bergaul sesama rekan dan sahabat di kampungnya Dusun Tutut sekitar 10 kilometer dari Sungailiat.
Usai menamatkan pendidikan di ST, Sahabudin berminat melanjutkan cita-cita sebagai seorang tentara. Keinginan Sahabudin sempat membuat bingung pihak keluarganya.
Sebab pihak keluarga beranggapan keinginan Sahabudin tersebut sulit terwujud. Kondisi ekonomi keluarganya tidaklah memungkinkan dirinya untuk menjadi tentara. Untuk melamar menjadi anggota TNI AL mesti ke luar Pulau Bangka sehingga butuh biaya yang tak sedikit.
“Tapi tekad dan semangatnya tak bisa diredam maka apa yang menjadi keinginannya pun kami turut mendukung. Ternyata tak disangka ia diterima sebagai anggota TNI AL,” kenang Tohir saat itu didampingi adik dan kakak kandung Sahabudin antara lain Syaidah, Zubir dan salah seorang keponakannya, Saferi di kediaman Dusun Tutut.
Saat menerima kunjungan Danlanal Babel Letkol Laut (P) Gregorius Agung WD didampingi istri bersama para perwira TNI AL lainnya, Rabu (14/1) pagi tak banyak yang diungkapkan oleh Tohir.
Apalagi yang diketahui oleh kakak maupun adik kandungnya. Sahabudin pergi meninggalkan keluarga demi membela negara saat usianya masihlah tergolong muda.
“Mungkin sudah takdirnya, dia harus meninggalkan kami demi membela tanah air tercinta,” ucap Tohir dengan pandangan mata berkaca-kaca. Jasa atau perjuangan Sahabudin membela tanah air tidak begitu saja dilupakan. Pemerintah RI di era pemerintahan Soeharto pun sempat menorehkan sebuah penghormatan bagi Almarhum Sahabudin dengan menetapkan namanya dalam daftar deretan nama-nama pahlawan nasional. Beragam penghargaan lainnya termasuk namanya pun sempat diabadikan sebagai salah satu nama gedung di Mako AL.
Danlanal Babel Gregorius pun sempat pula mengusulkan kepada pemerintah daerah Provinsi Babel agar nama Sahabudin dapat diabadikan menjadi salah satu nama jalan atau dibangun monumen di Pulau Bangka.
“Sudah pernah kita usulkan. Dan kita harapkan nama beliau dapat diabadikan untuk nama jalan atau setidak-tidaknya dibangun tugu monumen sosok Sahabudin. Sebab walau bagaimana pun dia merupakan pahlawan nasional, putera daerah yang patut kita hormati.” kata Gregorius sembari mengingatkan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah atau jasa-jasa para pahlawannya. (ryan augusta p)
Pria asal Dusun Tutut semasa hidupnya menjadi pernah parjurit di TNI AL. Dia salah satu ABK di KRI Macan Tutul. Tragedi gedi Laut Aru merenggut nyawa Sahabudin yang berpangkat klasi dua.
Tak cuma Sahabudin, rekan-rekannya yang lain awak KRI Macan Tutul pun gugur membela RI. Mereka gugur bersama seorang pahlawan nasional Komodor Yos Sudarso yang memimpin pertempuran Laut Aru.
Tohir adik kandung almarhum Sahabudin mengisahkan, semasa hidupnya, Sahabudin sebelum bergabung sebagai TNI AL menamatkan pendidikan di Sekolah Teknik (ST) Sungailiat. Sahabudin dikenal sebagai anak yang rajin, suka bergaul sesama rekan dan sahabat di kampungnya Dusun Tutut sekitar 10 kilometer dari Sungailiat.
Usai menamatkan pendidikan di ST, Sahabudin berminat melanjutkan cita-cita sebagai seorang tentara. Keinginan Sahabudin sempat membuat bingung pihak keluarganya.
Sebab pihak keluarga beranggapan keinginan Sahabudin tersebut sulit terwujud. Kondisi ekonomi keluarganya tidaklah memungkinkan dirinya untuk menjadi tentara. Untuk melamar menjadi anggota TNI AL mesti ke luar Pulau Bangka sehingga butuh biaya yang tak sedikit.
“Tapi tekad dan semangatnya tak bisa diredam maka apa yang menjadi keinginannya pun kami turut mendukung. Ternyata tak disangka ia diterima sebagai anggota TNI AL,” kenang Tohir saat itu didampingi adik dan kakak kandung Sahabudin antara lain Syaidah, Zubir dan salah seorang keponakannya, Saferi di kediaman Dusun Tutut.
Saat menerima kunjungan Danlanal Babel Letkol Laut (P) Gregorius Agung WD didampingi istri bersama para perwira TNI AL lainnya, Rabu (14/1) pagi tak banyak yang diungkapkan oleh Tohir.
Apalagi yang diketahui oleh kakak maupun adik kandungnya. Sahabudin pergi meninggalkan keluarga demi membela negara saat usianya masihlah tergolong muda.
“Mungkin sudah takdirnya, dia harus meninggalkan kami demi membela tanah air tercinta,” ucap Tohir dengan pandangan mata berkaca-kaca. Jasa atau perjuangan Sahabudin membela tanah air tidak begitu saja dilupakan. Pemerintah RI di era pemerintahan Soeharto pun sempat menorehkan sebuah penghormatan bagi Almarhum Sahabudin dengan menetapkan namanya dalam daftar deretan nama-nama pahlawan nasional. Beragam penghargaan lainnya termasuk namanya pun sempat diabadikan sebagai salah satu nama gedung di Mako AL.
Danlanal Babel Gregorius pun sempat pula mengusulkan kepada pemerintah daerah Provinsi Babel agar nama Sahabudin dapat diabadikan menjadi salah satu nama jalan atau dibangun monumen di Pulau Bangka.
“Sudah pernah kita usulkan. Dan kita harapkan nama beliau dapat diabadikan untuk nama jalan atau setidak-tidaknya dibangun tugu monumen sosok Sahabudin. Sebab walau bagaimana pun dia merupakan pahlawan nasional, putera daerah yang patut kita hormati.” kata Gregorius sembari mengingatkan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah atau jasa-jasa para pahlawannya. (ryan augusta p)
Sejarah Kota Pangkalpinang

Kota Pangkal Pinang adalah salah satu Daerah Pemerintahan Kota di Indonesia yang merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus merupakan ibukota Provinsi. Kota ini terletak di bagian timur Pulau Bangka. Kota Pangkalpinang terbagi dalam 5 kecamatan yaitu Taman Sari, Rangkui, Pangkalbalam, Bukit Intan dan Gerunggang. Memiliki wilayah seluas 118,408 km2 dan jumlah penduduk berdasarkan Susenas 2005 sebanyak 146.161 jiwa dengan kepadatan 1.737 jiwa/km2. Saat ini dipimpin oleh Walikota Drs.H.Zulkarnain Karim, MM yang telah menjabat untuk periode kedua (2008-2013) sebelumnya telah menjabat untuk periode pertama 2003-2008. Sungai Rangkui membelah kota yang berjulukan BERARTI (BERsih, Aman, Rapi, Tertib, Indah) ini. Kota ini berpusat di Jalan Merdeka sebagai titik nol kilometer kota.
Lahirnya Pangkalpinang dengan status Kota Kecil ialah pada tahun 1956 berdasarkan UU Darurat No 6 Tahun 1956 yang meliputi dua gemeente yaitu gemeente Pangkalpinang dan Gemeentee Gabek dengan luas 31,7 Km2 dan ditetapkan pula Pangkalpinang sebagai Ibukotanya. Sebagai pejabat Walikota yang pertama adalah R. Supardi Suwardjo (alm)., patih d/p Kantor Residen Bangka Balitung. Pada tanggal 20 November 1956 kedudukanya diganti oleh Achmad Basirun (alm) sebagai penjabat walikota dan kemudian diganti oleh Rd. Abdulah (alm) pad tanggal 15 Desember 1956.
Berdasarkan UU No.18 Tahun 1965 status Kotapraja dirubah menjadi Kotamdya. dengan keputusan Presiden RI tanggal 21 Februari 1967 no UP/10/I/M-220, M Saleh Zainudin diganti oleh Drs Rustam Effendi (alm) sebagai walikota dengan 5 (lima) orang anggota Badan Pemerintahan Harian sebagai pembantu dalam menjalankan pemerintahan.
Langganan:
Postingan (Atom)
